1 Mei 2013

SAAT YANG PALING MENGERIKAN NAMUN TERUS DIULANG



Perasaan sedih dan menjadi miskin adalah hal yang paling mengerikan saat dating dalam hidup kita. Miskin artinya tidak ada uang atau cukup materi untuk membeli sesuatu. Penyebab miskin ada beberapa hal. Sesorang tidak mempunyai keahlian khusus yang dibutuhkan orang lain, sehingga dia tdak mampu menukar keahliannya dengan uang. Atau bisa juga uang secara rutin telah diperolehnya, namun dalam sekejap mata uang telah lenyap menjadi sesuatu hal yang tidak berarti.

Tampaknya orang dengan tipe kedua lebih banyak kita temui. Sungguh Allah Maha Kaya, tidak pernah membiarkan hambaNya lapar tanpa makanan. Manusia dibekali akal agar mampu mencukupi diri dan keluarganya dalam hal kecukupan rejeki. Namun, saat kebiasaan tanpa perhitungan alias besar pasak daripada tiang alias boros telah menjadi hobi, maka rejeki sesering apapun dan sebanyak apapun dating tetaplah orang itu mengalami saat yang paling mengerikan, yaitu miskin.

Menjadi miskin harta adalah hal yang paling mengerikan dari sekian hal pengalaman menjadi manusia. Miskin bisa disebabkan oleh ketidak mampuan seseorang untuk menukar keahlian yang dimiliki dengan sejumlah uang. Ketidak mampuan ini bisa berarti keahlian yang rendah sampai ketidakmampuan dalam meraih pasar yang dituju. 

Penyebab miskin yang lain adalah karena sifat boros yang dimiliki seseorang. Ketika uang habis dipakai untuk belanja, orang seringkali mengeluh, dan berharap kedepan akan lebih baik lagi dalam pengelolaan keuangan. Akan tetapi kejadian “uang habis” akan terulang lagi pada bulan-bulan berikutnya. Tidak adanya perubahan riil yang terjadi menyebabkan seseorang menjadi lemah tak berdaya menghadapi keadaan. Sifat boros sebenarnya bisa diatasi dengan mudah, asalkan ada ketetapan hati yang kuat. Jangan lagi membenci keadaan, namun penyebabnya terus dipupuk.

26 Apr 2013

Muslim antara sedih dan senang



Mensyukuri apa yang punya adalah kelebihan dari seorang muslim. Sehingga saat seorang muslim bersedih, alangkah cepatnya kesediahn itu sirna saat dia mau menghitung satu demi satu kesenangan nikmat yang dia peroleh.
Dan saat kebahagiaan itu datang tak serta merta seorang muslim itu berhuru hara menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Dia akan memanggil saudara-saudaranya untuk turut merasakan kebahagiaannya.
Dalam hidup selalu ada sedih dan senang. Bagi setiap muslim, inilah tangga untuk menuju posisi keutuhan jiwa yang lebih tinggi.

22 Mar 2013

Cari Ikan, Bebas Menggembirakan Tanpa Kekangan

“Jangan, Nia... Azmi jangan dibolehin cari ikan. Nanti kulitnya jadi hitam. Nanti jatuh di lubang atau terbawa arus. Apa tidak bahaya Azmi main di sawah?” serentetan peringatan dari nenek Azmi saya dengar dari HP saya. Saya tersenyum. Sudah saya duga ibu mertua akan protes mendengar cucunya cari ikan.

“Insya Allah aman,Bu. Hanya berupa sungai kecil di sawah. Adanya ikan kecil-kecil. Tidak sampai ada lubang atau arus deras,” jawab saya menenangkan.
“Iya sudah, tetap hati-hati ya, biar Azmi tidak kenapa-kenapa,” pesan nenek Azmi ini.
Saya ceritakan perbincangan tadi dengan suami saya.
“Ibu terlalu khawatir. Lupa dulu bagaimana anaknya ini berpetualang,” komentar suami saya kalem.
“Apalagi Azmi anak cowok, perlu merasakan pengalaman yang berbeda. Beruntung di sebelah masih ada persawahan, jadi masih bisa dieksplor nuansa alaminya,” tambah saya.
“Biar makin terlatih kemampuan motoriknya,” suami saya tersenyum geli.
Azmi yang masih empat tahun itu terlihat sumringah membawa jaring ikan. Ditemani Aryo yang tujuh tahun berangkat ke sawah di samping rumah saya. Mereka berbekal dua jaring dan satu timba kecil.
“Mas Aryo nanti lihat Dek Azmi ya, jangan boleh lari-lari cari ikannya, ” pesan saya.
“Iya, Bunda,” jawab Aryo anak tetangga. Aryo juga memanggil saya Bunda.
“Mas Azmi, hati-hati ya, cari ikannya,” pesan saya pada Azmi. Azmi mengangguk dan langsung berlari keluar rumah. Dari jendela rumah saya lihat mereka telah sampai di sungai kecil yang mengalir ke sawah. Azmi mengikuti Aryo. Saya berlari menyusul ingin melihat langsung.
Saya teringat masa kecil saya dulu, saya tinggal di desa dengan hamparan sawah di sekeliling rumah. Saat musim hujan, air meluber ke pematang-pematang sawah. Saya dan teman-teman janjian sepulang sekolah mencari belut dan keong. Petualangan dimulai. Sepanjang jalan menuju sawah kami mampir di pohon jambu, mangga atau juwet. Walaupun kemi segerombolan anak perempuan, kami tidak ragu-ragu memanjat pohon mengambil buah. Timba-timba yang kami bawa dari rumah sebagian telah terisi buah-buahan tersebut. Kami tidak mencuri. Karena pohon-pohon tersebut milik kakek atau orang tua salah satu dari kami.
 Saat mencari belut atau keong di sawah milik orang tua saya, baju saya dan teman-teman basah dan berlumpur. Keong sudah kami dapatkan sebanyak satu timba. Hanya belutnya belum satupun kami dapatkan. Pulanglah kami ke rumah saya. Bersama ibu saya, kami memasak keongnya menjadi tumis keong. Kenangan ini begitu lekat di memori otak saya. Memori yang membuat saya merasa hidup ini adalah "milikku", saya bebas melakukan apapun. Apa yang saya lakukan membuat saya senang, teman-teman ceria dan orang tua tersenyum. Inilah rasanya telah menjadi pondasi yang kuat untuk kehidupan saya selanjutnya. Kepercayaan diri mengambil keputusan dan menikmati sumber daya yang saya miliki. Mempengaruhi orang lain dan berusaha menjadi pusat perhatian agar bisa merubah dan berbagi. Seperti cerita-cerita di balik noda lainnya yang begitu jelas memberikan inspirasi bagi para orang tua agar berani memberikan kebebasan bertanggung jawab bagi para buah hatinya.
Pada Azmi, saya terapkan hal yang sama. Di masa “golden period” sekarang biarlah dia mendapatkan haknya membangun pondasi terkuat dalam hidupnya. Kebebasan memiliki dunianya, karena kelak dia akan hidup di zaman yang berbeda dari zaman yang saya hadapi sekarang ini. Sebagai orang tua saya bertugas memberikan kesempatan terindah tanpa kekangan.
Bukankah dulu Nabi Muhammad SAW semasa kecil sudah memiliki aktivitas bebas menggembirakan, yaitu menggembalakan kambing di padang rumput di usia tujuh tahun. Beliau bebas menikmati kehidupannya di alam luas. Masa kecil adalah masa terbentuknya pondasi terkuat untuk menghadapi kehidupannya kelak. Pondasi itu harus dibangun dalam suasana bebas menggembirakan tanpa kekangan.
Sepulang cari ikan, badan Azmi kotor, bajunya belepotan lumpur,  baunya tidak sedap dan nafasnya tersengal-sengal. Waktunya mandi lalu ganti baju. Makan lalu minum susu. Subhanallah... rangkaian aktivitas yang sangat membahagiakan.
Ikan yang diperoleh dimasukkan dalam kolam di belakang rumah. Pembelajaran berikutnya adalah perhatian dan kepedulian. Perhatian terhadap kehidupan ikan-ikannya dan peduli dengan kebersihan air kolamnya dengan teratur memberi makan ikan dan menguras air kolam. Hal ini terasa mudah karena adanya kolam di belakang rumah adalah permintaan Azmi sendiri.

28 Feb 2013

Sterilisasi Kunci Kesembuhan

Kontaminasi rongga mulut dan luka terbuka disebarkan oleh udara, air, debu, aerosol, percikan atau droplets, sekresi saluran pernafasan, plak, kalkulus, bahan tumpatan gigi dan debris. Flora mulut patogen pasien ditransmisikan ke jaringan atau organ (autogenous infection) seperti katup jantung, sendi artificial serta jaringan lunak sekitarnya, dan tulang.
Mikroorganisme yang ditularkan melalui udara pada aerosol yang terhirup menyebabkan influenza, commond cold,  tuberkulosis (TBC), pneumonia (radang paru-paru), Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) atau sindrom pernapasan akut parah, avian influenza atau flu burung. Penyakit infeksi mata (trakoma) menular melalui benda terkontaminasi bakteri Chlamydia trachomatis. Infeksi melalui benda tajam dan jarum suntik melalui kulit atau mukosa adalah penyebaran penyakit hepatitis B dan AIDS dari pasien ke dokter gigi atau sebaliknya. 
Dari instrumen kecepatan tinggi, terbentuk percikan. Diameter percikan lebih besar dari 100 nanometer (splatter) cepat jatuh oleh gravitasi, sedangkan diameter kurang dari 100 nanometer cepat menguap dan tetap ada dalam udara selama beberapa jam sebagai droplet nuclei mengandung saliva atau sekresi serum kering dan mikroorganisme. Crawford mendemonstrasikan terjadinya percikan ini dengan jalan mencelupkan jarinya dengan zat warna merah sebelum memulai perawatan, ternyata zat warna tadi terpercik ke berbagai permukaan selama perawatan.
Melakukan evaluasi pasien tiap kunjungan agar diketahui ada tidaknya infeksi silang yang mungkin terjadi. Meliputi data nama, usia, jenis kelamin, suku, status perkawinan, pekerjaan, alamat, dan nomor telepon. Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita, adanya penyakit keturunan, keadaan sosial ekonominya, pendidikan, apakah ia pengguna narkoba atau peminum minuman keras. Dari data tersebut diperoleh informasi apakah pasien beresiko tinggi berpenyakit infeksi. Sir William Osler bahkan mengatakan : “Jangan pernah merawat orang asing/orang yang tidak dikenal.”
Tangan dokter dan perawat gigi merupakan “alat” efektif menularkan infeksi. Oleh karena itu keduanya harus menjaga  kebersihan diri, memakai baju praktik, imunisasi, proteksi dengan  sarung tangan, kacamata, masker, dan rubber dam. Hindari memegang sesuatu yang tidak dibutuhkan misalnya mata, hidung, mulut, rambut, luka atau abrasi. Tutupi luka atau lecet-lecet pada jari dengan plester sebab luka merupakan tempat masuknya mikroorganisme patogen. Cuci tangan dengan baik sebelum dan setelah merawat pasien dengan memakai sabun antimikrobial (mis. klorheksidin glukonat). Kuku digunting pendek dan tidak memakai cincin, gelang, dan jam tangan pada saat merawat pasien. Tangan dicuci sabun yang mengandung zat antimikrobial seperti iodofor (1% iodine), klorheksidin glukonat (2-4%), para-klormeta-silenol (PMCX) 0,5-3% atau alkohol (70% isopropil aklohol). Tangan digosok 10 detik, dikeringkan dengan pengering otomatis atau tissue. Memakai baju bersih dan baru dicuci. Baju diganti jika terkontaminasi. Bahkan baju tersebut harus dicuci air panas dan deterjen serta pemutih klorin. Rambut tidak menutupi pandangan atau diikat jika perlu dan memakai penutup rambut agar tidak terkena percikan peralatan. Dokter gigi mencuci muka sebelum makan dan juga mencuci muka serta rambut sebelum tidur. Bakteri patogen dan beberapa virus terutama virus hepatitis B dapat hidup pada pakaian selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
Banyak dokter gigi yang mengalami luka tusuk dan 88% melaporkan bahwa wajahnya pernah terpercik cairan tubuh pasien. Kacamata pelindung melindungi mata dari splatter dan debris percikan high speed, handpiece dan scaler. Untuk masker, efektivitas penyaringan jenis polipropilen lebih baik daripada masker kertas. Lama pemakaian yang efektif adalah 30-60 menit, terutama bila masker itu basah. Jadi sebaiknya memakai satu masker untuk tiap pasien. Rubber dam digunakan pada operasi untuk mendapat gambaran yang jelas setelah jaringan diangkat dan mengurangi kontak instrumen dengan mukosa, sehingga mengurangi luka dan perdarahan pada jaringan. Rubber dam mengurangi terjadinya aerosol karena tidak terjadi pengumpulan saliva.
Metode asepsis dengan cara barang-barang yang dibutuhkan di ruang praktek ditutupi, disterilkan atau didisinfeksi. Tentukan mana yang harus dibersihkan tiap hari dan mana yang cukup dibersihkan seminggu sekali termasuk lantai.
Alat-alat yang dapat ditutupi :
-  Baki instrumen, tutupi dengan bib yaitu kertas yang dilapisi plastik.
-  Ujung alat rontgen ditutupi dengan plastik atau kertas yang diberi selotip.
-  Tombol-tombol pada unit gigi, three way syringe dan sandaran kepala ditutupi dengan plastik atau aluminium foil.
-  Ujung dari blood suction dilapisi dengan kantung plastik yang ujungnya digunting untuk memasukkan ujungnya.
-  Pegangan lampu ditutupi dengan aluminium foil, kertas atau sepon berukuran 4 x 4 inci.
-  Ujung pegangan dan tombol trigger light cure tumpatan komposit ditutupi dengan pembungkus plastik.
Sterilisasi dilakukan 4 tahap :
1. Pembersihan sebelum sterilisasi. Alat dibersihkan dari debris organik, darah, saliva baik secara manual (penyikatan) oleh staf atau dengan alat ultrasonik.
2. Pembungkusan. Memakai nampan terbuka yang ditutup dengan kantung sterilisasi yang tembus pandang. Nampan yang berlubang dengan penutup yang dibungkus dengan kertas sterilisasi.
3. Proses sterilisasi dengan pemanasan basah tekanan tinggi (autoclave), pemanasan kering (oven) atau uap bahan kimia (chemivlave)
4. Penyimpanan yang aseptik yang baik. Apabila dalam waktu 1 bulan tidak digunakan harus disterilkan ulang.
Untuk mendesinfeksi permukaan dapat dipakai Sodium hipoklorit (bahan pemutih pakaian) yang dilarutkan dengan perbandingan 1 : 10 hingga 1 : 100, harganya murah dan sangat efektif. Harus hati-hati untuk beberapa jenis logam karena bersifat korosif, terutama untuk aluminium.
Pencegahan penyakit infeksi bagi tekniker gigi, hasil cetakan gigi dicuci air mengalir membersihkan saliva, debris dan darah kemudian direndam atau disemprot desinfektan sebelum dikirim ke laboratorium. Begitu pula prostesis sebelum dipasang didisinfeksi terlebih dulu dengan desinfektan yang sesuai dengan bahan dari protesa tersebut. Menurut Merchant dan Mollinari, bahan disinfektan yang paling baik untuk prostesis adalah iodophors selama 10 menit
Pembuangan sampah bekas praktik
Pembuangan sarung tangan, masker, tissue bekas dan penutup permukaan yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh ditangani hati-hati. Dimasukkan dalam kantung plastik yang kuat dan tertutup rapat untuk mengurangi kemungkinan kontak dengan orang lain. Benda-benda tajam seperti jarum atau pisau scalpel atau jaringan tubuh harus dimasukkan dalam tempat yang tahan terhadap tusukan sebelum dimasukkan dalam kantung plastik.
Untuk menyatukan prinsip pentingnya sterilisasi saya memberikan buku tentang sterilisasi kepada staf saya. Sering-sering saya ajak mereka berdiskusi tentang tata cara dan manfaat sterilisasi. Sehingga dokter gigi dan staf bersama-sama memberikan pelayanan yang aman demi kesembuhan dan keselamatan bersama.

Great Secret



Dua dokter gigi merawat pasien dengan peralatan, pengetahuan, terapi dan obat sama namun hasil kesembuhan berbeda. Bisa jadi support sistem sterilisasi tempat praktiknya berbeda. Support sterilisasi yang tepat mendukung kesembuhan dan keselamatan pasien, dokter gigi dan staf dari mikroorganisme patogen mematikan. Tindakan cabut, tambal, bedah dan intervensi lainnya memperparah penyakit pasien jika peralatan yang digunakan tidak steril. Penyakit infeksi yang ditularkan antara lain TBC, sifilis, hepatitis A, B, C, AIDS, ARC, dan herpes. Sumber infeksi dari tangan, saliva, darah, sekresi hidung, baju, rambut dan peralatan praktik lainnya.